Kenapa Daging Anjing Diharamkan Dalam Islam ?

Thursday, 11 February 2016 00:00 Ruzlan
Print

1Kedai Mudah

daging anjing

Setiap yang Allah perintahkan atau larang pasti terdapat hikmah atasnya.

Jika Allah mengharamkan sesuatu pasti terdapat keburukan di dalamnya, jika Allah menghalalkan sesuatu pasti ada kebaikan di dalamnya untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini. Kali ini, kita akan membahaskan mengapa daging anjing diharamkan ? Adakah sebab ilmiah yang dapat kita ketahui? Berikut penjelasannya.

Prof. Thabārah dalam kitab Rūh ad-Dīn al-Islāmi menyatakan,

"Di antara hukum Islam bagi perlindungan badan adalah penetapan najisnya anjing. Ini adalah mu'jizat ilmiyah yang dimiliki Islam yang mendahului ilmu kedoktoran moden. Perubatan moden menetapkan bahawa anjing menyebarkan banyak penyakit kepada manusia, disebabkan anjing mengandung cacing pita yang menularkannya kepada manusia. Ia menjadi sebab manusia terjangkit penyakit yang berbahaya, sehingga boleh membunuh.

Sudah ditetapkan bahwa seluruh anjing tidak lepas dari cacing pita sehingga wajib menjauhkannya dari semua yang berhubungan dengan makanan dan minuman manusia.
[Taudhīhul-Ahkam, Syaikh Ali Bassām, 1/137].

daging anjing

Gambar cacing-cacing pita yang kotor yang boleh membunuh terdapat dicelah daging anjing.

Dalam riwayat lain:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullāh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

" Sucikan bejana kalian yang dimasuki mulut anjing dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah"
[HR Muslim no. 420 dan Ahmad 2/427]

Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qirāth (satu qirāth adalah sebesar gunung Uhud)."
[HR. Muslim no. 2941].


Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

Penghuni rumah yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qirāth.
[HR. Muslim no. 2945].


Demikian juga Rasulullāh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan shalehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qirāth, selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.
[HR Muslim no. 2949].


Dari Abu Mas'ūd Radhiyallahu 'anhu beliau berkata:

Rasulullāh Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun.
[Diriwayatkan oleh Imam, Ahmad 4/118-119, 120, al-Bukhāri 7/28 dan Muslim no. 1567.]


Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu yang berbunyi, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

Semua yang memiliki gigi taring dari hewan buas maka memakannya haram. [HR Muslim 1933]

Meskipun demikian, bukan berarti apa yang Allah ciptakan adalah sia-sia atau tidak ada munafa'atnya. Karena Allah menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang haq (benar), dan Allah hendak menguji dari hamba-hambaNya siapa yang terbaik perbuatannya, dan Allah menguji siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang masih ragu-ragu.

Lalu apa manafa'at anjing? Binatang yang satu ini dapat dimanafa'atkan untuk menjaga haiwan ternak atau juga boleh dijadikan haiwan pemburu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud)."
(HR. Muslim).


'Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, : "Atau anjing untuk menjaga tanaman."

Jadi anjing dapat dimanafa'atkan untuk menjaga binatang ternak dan khusus untuk berburu setelah dilatih terlebih dahulu.

"Jika kamu melepas anjingmu, maka sebutlah asma' Allah atasnya (Bissmillah), maka jika anjing itu menangkap untuk kamu dan kamu dapati dia masih hidup, maka sembelihlah."
(HR. Bukhari dan Muslim)


Wallahu a'lam bishshawab

Artikel bank

Kredit untuk: detikislam.blogspot.my


Last Updated on Tuesday, 07 February 2017 00:18